Archive for Parpol Gurem

Hanura-Gerindra Borong Partai Gurem

Posted in Partai Politik 2009 with tags on August 7, 2008 by anugue

Dongkrak Suara
DUA JENDERAL
Borong Parpol


Wiranto dan Prabowo Subianto agresif memborong partai gurem yang tidak lolos seleksi KPU. Strategi dua jenderal mendongkrak suara Partai Hanura dan Gerindra dalam Pemilu 2009.

GELIAT Partai Hanura dalam menggalang suara terlihat makin agresif memasuki masa kampanye pemilu. Manuver politik partai bernomor urut 1 terlihat ketika berupaya meleburkan suara sembilan partai gurem yang tidak lolos verifikasi dalam bendera Hanura. Mereka adalah Partai Kebangkitan Rakyat, Partai Buruh, Partai Marhaen Jaya, Partai Kristen Indonesia 1945, Partai Kebangsaan, Partai Kristen Demokrat, Partai Kristen Nasional Demokrat Indonesia, Partai Bhineka Indonesia (PBI), dan Partai Pemersatu Nasionalis Indonesia.

Belanja Parpol Jelang Pemilu 2009

Belanja Parpol Jelang Pemilu 2009

Ketua DPP Hanura Fuad Bawazier mengatakan, upaya tersebut digalang karena masing-masing partai akan memiliki potensi besar jika dilebur dalam bendera Hanura. Ia pun menjanjikan sembilan parpol tersebut masuk dalam kepengurusan Hanura. Partai Pemersatu Nasionalis Indonesia (PPNI) menyatakan kesiapannya mendukung Partai Hanura dan menjadi bagian dari perubahan yang akan dilakukan Partai Hanura, yakni perubahan untuk menyejahterakan rakyat. John Kawilarang, salah seorang Ketua PPNI mengatakan, keputusan PPNI memilih Hanura tak lepas dari figure kepemimpinan Wiranto yang berani dan tegas

Begitu pula, Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 45 Raja Karina Brahmana menyatakan, partainya bergabung dengan Hanura karena melihat Indonesia perlu membangun gerakan politik yang bermoral dan memegang etika. “Hal itu saat ini sudah hilang. Hanura dengan gerakan hati nurani rakyat mengedepankan moral dan etika,” katanya.

Ketua Partai Kristen Demokrat (PDK) Tommy Sihotang menyatakan, banyak orang menunggu dan menaruh harapan pada Wiranto karena Ketua Umum Partai Hanura ini sudah membuktikan komitmennya yakni berjuang untuk rakyat. Ia menambahkan, Jenderal Wiranto punya dua kali kesempatan untuk menjadi pimpinan negeri ini, tapi Wiranto memilih tak menggunakannya karena lebih mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketum Hanura Wiranto mengatakan keputusan sembilan parpol untuk menyalurkan aspirasi politiknya melalui Partai Hanura adalah sesuatu yang baik karena untuk melakukan perubahan memang diperlukan kekuatan yang besar, setidaknya diperlukan kekuatan yang mampu mengungguli kekuatan parpol lama. “Setelah kita bicara ternyata suara kita sama dengan suara mereka, yakni ingin melakukan perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Saya yakin kami bisa menjadi bagian proses perubahan itu,” tegas Wiranto.

Namun, tidak semua partai tersebut kepincut bergabung dengan partainya Jenderal (Purn) Wiranto. Partai Buruh lebih memilih melebur ke dalam Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) untuk menyalurkan aspirasinya. Sebab, menurut Ketua Partai Buruh Muchtar Pakpahan, ada kemiripan visi dan misi yaitu untuk mengangkat derajat kaum buruh Indonesia. “Hasil Rakernas memutuskan tiga hal; partai kami terus berjuang lewat PTUN, Muchtar Pakpahan tetap tinggal di Partai Buruh, dan kader kami yang tidak sabar menunggu (hasil PTUN) dianjurkan ke PPPI,” kata Muchtar.

Setali tiga uang, PBI malah bergabung dengan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK). Pasalnya, kata Ketua PBI Nurdin Purnomo, merasa cocok dengan pluralisme dan demokrasi yang diusung PDK. Karena itu, partai yang mayoritas pendukungnya adalah keturunan etnis Cina itu lebih memilih untuk bergabung dengan partai yang dipelopori Ryaas Rasyid, meski banyak partai yang juga mengajaknya bergabung. Tidak hanya PBI, tiga partai lainnya yaitu Partai Kemakmuran, Partai Parade Nusantara, dan Partai Kerakyatan melebur ke dalam partai nomor 20 itu.

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) seperti tak mau ketinggalan. Salah satu parpol yang tak lolos verifikasi KPU, Partai Parade Nusantara, diklaim bergabung dengan partai nomor 5 tersebut. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan, partai yang digalang kepala desa seluruh Indonesia terus melakukan komunikasi dengan Gerindra. Menurutnya, tidak hanya partai gurem yang kepincut untuk melebur dengan partai yang dipelopori mantan Danjen Kopassus Jenderal Prabowo. Bahkan, beberapa tokoh partai, seperti PPRN (Partai Peduli Rakyat Nasional), PKS dan Demokrat di berbagai daerah menyatakan bergabung dengan Gerindra. “Di Kalimantan Tengah, saya dapat laporan bahwa (kader) dari PKS dan Partai Demokrat ada yang ingin bergabung. Banyak, deh, Mas. Setiap hari ada saja yang mau ikut. Saya sampai capek mendengarnya,” kata Ahmad.

Ditanya alasan mereka ingin bergabung, Ahmad mengatakan tidak tahu. Ia beranggapan, mereka telah mengetahui AD/ART Gerindra dan telah setuju terhadap cita-cita perjuangan partai. Lalu, mereka akan mewakili pribadinya masing-masing saat bergabung, bukan partainya. “Karena kami tidak menganut sistem keanggotaan lembaga, tapi perorangan,” imbuhnya.

Strategi Hanura dan Gerindra memborong parpol tak lolos verifikasi KPU diyakini bisa mendongkrak perolehan suara. Setidaknya, menurut Direktur Eksekutif Sugeng Sarjadi Syndicated, Sukardi Rinakit, ada dua keuntungan. Pertama, meleburkan partai-partai yang tidak lolos KPU akan memperkuat jaringan dan infrastruktur kedua partai yang dipelopori jenderal tersebut. Kendati tidak lolos, partai-partai itu sedikitnya memiliki jaringan ke bawah yang cukup bagus. “Paling tidak dapat memperkuat infrastruktur Hanura dan Gerindra,’’ imbuhnya.

Selain itu, partai-partai itu cukup memiliki basis suara untuk menghadapi Pemilu 2009. Namun, karena partai-partai tersebut tidak terlalu memiliki infrastruktur yang lengkap dan penetrasi yang kuat, Gerindra dan Hanura hanya mendapat sedikit sumbangan kontribusi suara. “Tentunya parpol yang tidak lolos ini tidak memiliki suara yang signifikan. Karena mereka tidak bisa membangun jaringan ke bawah maka penetrasinya juga akan kecil, otomatis tidak akan kuat,” katanya. ( Selain itu, Cak Kardi—sapaan akrab Sukardi Rinakit—menilai langkah menarik parpol-parpol yang tidak lolos verifikasi KPU tidaklah mudah. Soalnya, partai-partai tersebut akan menuntut kompensasi dari Hanura dan Gerindra. “Tentunya parpol tersebut meminta deal-deal tertentu. Urusan kompensasi tersebut yang sulit disatukan,” katanya.

Tidak jauh berbeda dengan Cak Kardi, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti, menilai strategi Hanura dan Gerindra belanja parpol gagal pemilu ini akan memberikan kekuatan secara produktif. Menurutnya, suara yang dimiliki puluhan partai-partai yang tidak lolos ini akan terbuang percuma jika tidak dirangkul bergabung. “Paling tidak mereka bisa membantu untuk menambah suara Hanura dan Gerindra. Karena jika dilihat dalam peraturan bahwa setiap parpol yang ingin memperoleh kursi di DPR,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, cara yang dilakukan oleh Hanura dan Gerindra sangat efektif untuk lebih mensosialisasikan kedua partai tersebut. Paling tidak dengan dukungan yang banyak dari parpol yang tidak lolos akan memberikan dukungan yang banyak juga dari masyarakat luas. Namun, meleburkan banyak partai akan memiliki resiko karena partai-partai politik yang tidak lolos ini akan meminta proyek. “Sangat menguntungkan jika Hanura atau Gerindra bisa memperoleh satu atau dua kursi DPR jika bergabung dengan parpol yang tidak lolos verifikasi,” tambahnya.


■ Rega Indra Adhiprana, Thantri Kesumndari

Sumber: Tabloid Indonesia Monitor
Edisi 6 Tahun I/6-12 Agustus 2008

Advertisements

Parpol Gurem Mencari Figur

Posted in Partai Politik 2009 with tags on August 7, 2008 by anugue

Tanpa Solek, Muram
Wajah Partai Gurem

Parpol gurem harus pintar bersolek dalam Pemilu 2009. Kehadiran figur tokoh dapat menjadi make up untuk memikat hati pemilih.

BEGITU peluit masa kampanye ditiup KPU (Komisi Pemilihan Umum). Beberapa partai baru terlihat agresif mencari figur tokoh nasional. Pentolan partai gurem tersebut menyadari kehadiran sosok karismatik diharap dapat mendongkrak perolehan suara. Tidak cukup hanya mengandalkan program untuk membuat parpol laris.

Strategi menjual figure tokoh ini sukses didulang PIS (Partai Indonesia Sejahtera). Dalam Rapimnas PIS pecan lalu. Partai bernomor urut 33 ini berhasil menggandengan Letjen TNI (Pur) Sutiyoso dan sejumlah artis seperti Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, Happy Salma dan pelawak personel empat Eman. Ketua Umum PIS Budiyanto Darmastono mengatakan, popularitas mantan Gubernur DKI Jakarta itu diyakini dapat membawa PIS memenangkan Pemilu 2009. Setidaknya nama mentereng Bang Yos—sapaan akrab Sutiyoso—akan memudahkan PIS meraih 15 kursi DPR RI atau meraih 2,5 persen angka parliamentary threshold (PT) dari jumlah kursi di DPR RI dalam pemilu 2009 mendatang. ‘’Dengan waktu yang kurang dari sembilan bulan ini, PIS harus bekerja keras dengan membangun jaringan sampai tingkat dusun,” serunya.

Bang Yos sendiri yang sudah resmi menjadi calon presiden PIS berjanji akan membesarkan PIS hingga ke pelosok daerah. ‘’Target awal yang dicanangkan PIS adalah meraih suara yang berasal dari kader, keluarga kader, maupun lingkungan di sekitar kader PIS,” ujar mantan Pandam Jaya itu.

Langkah yang sama juga sudah jauh hari dilakukan PMB (Partai Matahari Bangsa). Partai berlambang matahari merah ini menggandeng tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam proses kelahirannya. Kemesraan PMB dan Muhammadiyah makin terlihat dalam Rapimnas PMB, Jumat (24/07). ‘’Muhammadiyah dukung penuh PMB. Ini pribadi. Akan tetapi, pribadi tidak terlepas dari jabatan saya sebagai Ketua Muhammadiyah,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Selain Din, kehadiran sosok tokoh karismatik Syafii Maarif di balik layar PMB, membuat pamor partai yang dimotori anak-anak muda Muhammadiyah makin bersinar. Manajemen menjual popularitas tokoh yang dilakukan parpol baru itu diakui

Direktur Lembaga Survei Nasional (LSN) Umar S Bakry sebagai langkah jitu menaikkan pamor partai. Menurutnya, berdasarkan hasil survei LSN yang diadakan bulan Mei 2008 di 33 provinsi, ada enam parpol yang dikenal publik, yaitu: Partai Hanura, Partai Gerindra, PPRN, PDP, PKNU dan PMB. Faktor yang membuat keenam parpol tersebut relatif lebih popular daripada parpol baru lainnya adalah figur tokoh yang berada di balik mereka. ‘’Bukan program partai yang masih di awang-awang,’’ tegas Umar.

Umar menjelaskan, Partai Hanura dipimpin oleh mantan Panglima TNI Wiranto. Partai Gerindra didukung penuh oleh mantan Pangkostrad Prabowo Subianto. Sedangkan, PPRN ada sosok putri Pahlawan Revolusi Ahmad Yani. PDP ditukangi oleh mantan dedengkot-dedengkot PDIP. ‘’Sedangkan PKNU ada Alwi Shihab dan para kiai khos NU. Terakhir, PMB dengan kehadiran Din Syamsuddin,’’ katanya. Menurut survei LSN, Partai Hanura merupakan parpol baru terpopuler, dikenal oleh 30.6 persen publik. Di tempat kedua PKNU (13 persen), diikuti PDP (12.6 persen), PPRN (sembilan persen), Gerindra (6.8 persen), dan PMB (5.4 persen). Parpol baru lainnya ratarata dikenal kurang dari dua persen publik, bahkan banyak parpol yang tidak dikenal sama sekali keberadaannya.

Partai Hanura juga menjadi parpol baru yang paling disukai publik, sebanyak 16.4 persen publik mengaku suka dan sangat suka terhadap Hanura. Ditempat kedua PKNU (11 persen), disusul PDP (9.6 persen), lalu PPRN (9.3 persen), Partai Gerindra (7.8 persen), dan PMB (7.7 persen). Berkaca pada kenyataan tersebut, partai-partai baru, yang sebagian besar adalah partai gurem, tanpa kehadiran tokoh sulit untuk bertahan dalam Pemilu 2009. Alasannya, lanjut Umar, mayoritas pemilih di Indonesia akan memilih partai lebih banyak ditentukan oleh irasionalitas ketimbang program partai. Mereka memilih partai karena alas an ideologis atau kepopuleran tokoh-tokoh partai. Partai-partai gurem yang tokohnya tidak dikenal jangan harap akan mendapat dukungan.

Sependapat dengan Umar, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X menambahkan, faktor popularitas tokoh lebih dominan dibanding parpol terlihat dalam ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) di sejumlah daerah Indonesia. Menurutnya, figur calon kepala daerah yang popular di mata pemilih lebih berpotensi menang ketimbang factor parpol pengusung. ‘’Besar kecilnya parpol tidak menentukan kemenangan dalam pilkada, namun lebih ditentukan kredibilitas dan kapabilitas dari figur calon itu sendiri,’’ jelasnya.

Besarnya pengaruh figur tokoh juga tercermin dalam survei yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mengenai persepsi masyarakat terhadap pilkada Gubernur Jawa Tengah. Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid mengatakan, survei menunjukkan masyarakat Jawa Tengah lebih mempertimbangkan figur dan popularitas ketimbang asal partai calon.

Menurutnya, dalam survei yang dilakukan pada 14-25 April 2008 terhadap 1.191 responden menunjukkan hal yang memengaruhi pertimbangan masyarakat untuk memilih calon gubernur (cagub) lebih didasarkan kepada faktor figur atau popularitas daripada asal partai pengusung cagub. Dalam survey tersebut, sebanyak 92,02 persen responden mengaku akan mempertimbangkan faktor figur atau popularitas cagub dalam menentukan pilihannya pada pilgub nanti. Sementara itu, hanya sekitar 58,94 persen responden yang mempertimbangkan asal partai pengusung cagub.

‘’Sosok popularitas tokoh dalam partai gurem dapat menjadi’make up sehingga partai terlihat menarik di mata pemilih. Dengan sendirinya popularitas partai akan terkatrol sehingga dikenal luas ke masyarakat pemilih,’’ tuturnya.

Sementara, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menilai, hadirnya 34 parpol yang bertanding dalam pemilu membuat rakyat kebingungan memilih. Publik sulit membedakan satu partai dengan partai lainnya. Sehingga, figur yang populer dan rekam jejak yang baik sangat penting menentukan banyaknya suara yang bisa diraih sebuah parpol. ‘’Buktinya, iklan politik yang menekankan figure diri marak di berbagai media masa,’’ jelasnya.

Profesor Riset Bidang Politik LIPI ini merasa prihatin dengan sikap optimis pemimpin partai politik gurem yang ‘pagi-pagi’ sudah yakin bisa meraup suara banyak pada Pemilu 2009. Menurutnya, untuk membuktikan tingkat popularitas parpol baru tersebut di mata pemilih sangat mudah. ‘’Tak usah survei, jauh-jauh ngecek di NTT atau Ternate. Tanya saja di sekitar Depok, apakah pimpinan parpol tersebut dikenal oleh masyarakat,” ujarnya.


■ Rega Indra Adhiprana,Anugrah T Aji

Sumber: Indonesia Monitor
Edisi 5 Tahun I/29 Juli-5 Agustus 2008