Archive for Muhammadiyah dan PAN

Muhammadiyah Tinggalkan PAN

Posted in Partai Politik 2009 with tags on August 7, 2008 by anugue

Sinar Muhammadiyah
Redup di Pondok Indah


Dukungan Pimpinan Pusat Muhammdiyah terhadap PMB (Partai Matahari Bangsa) semakin menguat setelah KPU mengumumkan partai matahari merah itu lolos sebagai partai peserta Pemilu 2009. Awal dari memudarnya matahari PAN tanpa sinar Muhammadiyah.

KETUA Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah KH Muhammad Muqoddas, dan Sekum HM Rosyad Saleh langsung menggelar rapat tertutup dengan Ketua Umum PMB Imam Addaruqutni dan Sekjen Ahmad Rofiq di Kantor Pusat Dakwah Muhammdiyah, Menteng, Jakarta, Rabu (9/7) pekan lalu. Usai pertemuan, Din langsung menegaskan dukungannya terhadap PMB. “Setiap parpol yang berkhianat dengan Muhammadiyah akan dijauhi warga Muhammadiyah,” tegas Din.

Saat ini, katanya, banyak parpol yang mengklaim dekat dengan Muhammadiyah, tetapi pada kenyataannya tidak membela kepentingan Muhammadiyah dan tidak seluruhnya menampilkan nilai-nilai Muhammadiyah. ‘’Jadi, sekarang jangan ada lagi parpol yang mengklaim dekat dengan Muhammadiyah tetapi tidak memperjuangkan kepentingan Muhammadiyah,” ujarnya.

Sayangnya, Doktor jebolan UCLA ini menolak untuk menyebut parpol yang pernah berkhianat terhadap Muhammadiyah tersebut. Apakah itu Partai Amanat Nasional (PAN)? Din mengatakan, ia tidak hanya bicara soal PAN, tetapi untuk partai mana saja yang pernah mengklaim dekat dengan Muhammadiyah. Yang dimaksud dengan nilai-nilai Muhammadiyah itu, menurutnya, seperti nilai antikorupsi, antisuap menyuap dan antipolitik uang. Din juga menegaskan bahwa meskipun tidak punya hubungan organisatoris dengan Muhammadiyah tetapi warga Muhammadiyah diperbolehkan menjadikan PMB sebagai sarana perjuangan politiknya.

Berbeda dengan Din, salah satu Ketua KH Muhammad Muqaddas dengan tegas mengatakan bahwa Muhammadiyah setuju, mendukung dan akan memilih PMB pada Pemilu 2009. “Dengan izin Allah, kita berharap PMB akan menjadi partai yang besar,” katanya. Dukungan Muhammadiyah tersebut langsung bergulir ketika PMB dideklarasikan di Kota Yogyakarta, Desember tahun silam.

Tokoh karismatik Muhammadiyah Syafii Maarif dalam tausiyahnya meminta kader PMB memegang teguh idealisme sampai mati. Sebab, saat ini politik dianggap sebagai mata pencarian, bukan alat perjuangan. Akibatnya, bangsa ini sekarang dipimpin para maling.

Totalitas dukungan pentolan Muhammadiyah tentu membuat semangat Imam Addaruqutni membuncah. Komitmen itu memudahkan PMB masuk ke dalam kalangan warga Muhammadiyah. Dengan modal tersebut dalam pemilu legislatif, PMB optimis dapat meraup suara di atas tujuh persen. ’’Angka itu suara yang diperoleh dengan kembalinya suara kalangan Muhammadiyah. Jika memaksimalkan dari kalangan lainnya yang orientasi ideologinya juga ke Muhammadiyah besarnya kira-kira 10 persen,’’ ujar Imam.

Sementara Sekjen PMB Ahmad Rofiq meyakini bahwa massa Muhammadiyah tersebar dimana-mana, bahkan tidak sedikit pendukung yang bernaung di PAN, PKS dan terbanyak di Partai Golkar. Dengan dukungan elit Muhammadiyah, PMB memiliki target untuk memanggil kembali massa ormas Islam terbesar kedua di Indonesia ini. Untuk mengejar target tersebut, Rofiq mengatakan, salah satu strateginya dengan mengirimkan surat kepada DPW dan DPC Muhammadiyah di seluruh Indonesia agar memberikan sumbangsih berupa kesediaan kadernya menjadi calon  anggota legislatif dari PMB. ‘’Kesediaan tokoh-tokoh Muhammadiyah di daerah merupakan dukungan besar untuk meraih kemenangan pada Pemilu 2009. Ini juga bukti komitmen kami pada persyarikatan Muhammadiyah,” katanya.

Selain itu, Imam menambahkan, kehadiran PMB yang berazas Islam Berkemajuan ini diyakini dapat menyedot suara warga Muhammadiyah yang semula memilih PKS. Pemilih Muhammadiyah tersebut akan melihat PMB dan PKS sama-sama berasas Islam, bukan seperti PAN yang berasas nasionalis. ‘’Saya yakin akan ada proses arus balik suara Muhammadiyah ke PMB. Apalagi dengan dengan masa kampanye yang delapan bulan akan memaksimalkan suara PMB, mungkin di atas 70 persen suara Muhamaddiyah akan kembali ke PMB,’’ tegasnya.

Alasannya, PMB memiliki orientasi ideologis yang tepat untuk menampung suara Muhammadiyah. Berbeda dengan PAN atau PKS yang secara ideologis berbeda dengan Muhammadiyah. Karena dalam ideologi Islam, Muhammadiyah jauh lebih lama berdiri dibandingkan dengan PKS. ’’Artinya,’pengikut kita yang dulu sempat berpaling akan kembali,’’ tegasnya.

Kendati begitu, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin  Yazid menilai, memang kehadiran PMB dalam Pemilu 2009 dapat kembali menjadi payung bagi warga Muhammadiyah yang telah berpencar ke berbagai partai. Apalagi, sejak ditinggal Amien Rais, PAN dinilai tidak dapat memperjuangkan aspirasi warga Muhammadiyah. ‘’Potensi PAN kehilangan suara Muhammadiyah sangat besar,’’ujar Husin.

Kemungkinan tersebut, menurutnya, sudah dibaca Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir dari markasnya di Pondok Indah. Karenanya Mas Tris, sapaan akrab Soetrisno Bachir, lebih sering menggarap pasar massa di luar Muhammadiyah. Bagaimana dengan PAN? Partai berlambang matahari biru itu sepertinya tak terlalu khawatir dengan kemesraan elit Muhammadiyah dengan PMB. Wasekjen PAN Teguh Juwarno menilai, kehadiran PMB bukan ancaman. Menurutnya, dalam Pemilu 2009 pemilih akan memilih partai yang betul-betul mereka inginkan. ‘’Bukan lagi ketokohan partai, bukan warna, lambang dan atributnya,’’ kata kepada’Indonesia Monitor.

Lebih jauh Teguh menambahkan, massa Muhammadiyah adalah massa yang rasional dan cerdas. Sehingga dalam menentukan pilihan dengan pertimbangan rasional. Kasus tersebut, lanjutnya, tercermin dalam Pemilu 2004 ketika PAN dipegang Amien Rais, aspirasi massa Muhammadiyah lebih besar disalurkan ke Partai Golkar. ‘’Jadi secara realitas basis utama PAN adalah massa yang ada di bawah. Jumlahnya lebih banyak dari massa Muhammadiyah,’’ ujarnya.

Hal itu juga diamini Husin. Kendati mendapat dukungan politis dari elit Muhammadiyah, tidak serta merta suara massa Muhammadiyah yang terpencar akan kembali masuk PMB. Soalnya, secara kultural massa Muhammadiyah berbeda dengan NU (Nahdlatul Ulama). Suara Muhammadiyah yang berbasis di perkotaan dan terpelajar belum tentu akan sami’na wa atho’na (mendengar dan mematuhi) titah, sekalipun pentolan Muhammadiyah telah memberikan sinyal terhadap PMB.

Selain itu, partai yang memiliki moto perjuangan satukan umat makmurkan bangsa ini digalang anak-anak muda Muhammadiyah yang belum teruji secara politik. Untuk itu, selama masa sembilan bulan kampanye, PMB harus dapat melakukan marketing politik dan komunikasi yang tepat agar targetnya tidak menjadi mimpi. Setidaknya harus pintar memanfaatkan momentum hilangnya sinar Muhammadiyah di Pondok Indah.

■ Thantri Kesumandari, Feri Relasyah, Anugrah T Aji

Sumber: Tabloid Indonesia Monitor
Edisi 3 Tahun I/16-22 Juli 2008

Advertisements