Parpol Gurem Mencari Figur

Tanpa Solek, Muram
Wajah Partai Gurem

Parpol gurem harus pintar bersolek dalam Pemilu 2009. Kehadiran figur tokoh dapat menjadi make up untuk memikat hati pemilih.

BEGITU peluit masa kampanye ditiup KPU (Komisi Pemilihan Umum). Beberapa partai baru terlihat agresif mencari figur tokoh nasional. Pentolan partai gurem tersebut menyadari kehadiran sosok karismatik diharap dapat mendongkrak perolehan suara. Tidak cukup hanya mengandalkan program untuk membuat parpol laris.

Strategi menjual figure tokoh ini sukses didulang PIS (Partai Indonesia Sejahtera). Dalam Rapimnas PIS pecan lalu. Partai bernomor urut 33 ini berhasil menggandengan Letjen TNI (Pur) Sutiyoso dan sejumlah artis seperti Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, Happy Salma dan pelawak personel empat Eman. Ketua Umum PIS Budiyanto Darmastono mengatakan, popularitas mantan Gubernur DKI Jakarta itu diyakini dapat membawa PIS memenangkan Pemilu 2009. Setidaknya nama mentereng Bang Yos—sapaan akrab Sutiyoso—akan memudahkan PIS meraih 15 kursi DPR RI atau meraih 2,5 persen angka parliamentary threshold (PT) dari jumlah kursi di DPR RI dalam pemilu 2009 mendatang. ‘’Dengan waktu yang kurang dari sembilan bulan ini, PIS harus bekerja keras dengan membangun jaringan sampai tingkat dusun,” serunya.

Bang Yos sendiri yang sudah resmi menjadi calon presiden PIS berjanji akan membesarkan PIS hingga ke pelosok daerah. ‘’Target awal yang dicanangkan PIS adalah meraih suara yang berasal dari kader, keluarga kader, maupun lingkungan di sekitar kader PIS,” ujar mantan Pandam Jaya itu.

Langkah yang sama juga sudah jauh hari dilakukan PMB (Partai Matahari Bangsa). Partai berlambang matahari merah ini menggandeng tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam proses kelahirannya. Kemesraan PMB dan Muhammadiyah makin terlihat dalam Rapimnas PMB, Jumat (24/07). ‘’Muhammadiyah dukung penuh PMB. Ini pribadi. Akan tetapi, pribadi tidak terlepas dari jabatan saya sebagai Ketua Muhammadiyah,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Selain Din, kehadiran sosok tokoh karismatik Syafii Maarif di balik layar PMB, membuat pamor partai yang dimotori anak-anak muda Muhammadiyah makin bersinar. Manajemen menjual popularitas tokoh yang dilakukan parpol baru itu diakui

Direktur Lembaga Survei Nasional (LSN) Umar S Bakry sebagai langkah jitu menaikkan pamor partai. Menurutnya, berdasarkan hasil survei LSN yang diadakan bulan Mei 2008 di 33 provinsi, ada enam parpol yang dikenal publik, yaitu: Partai Hanura, Partai Gerindra, PPRN, PDP, PKNU dan PMB. Faktor yang membuat keenam parpol tersebut relatif lebih popular daripada parpol baru lainnya adalah figur tokoh yang berada di balik mereka. ‘’Bukan program partai yang masih di awang-awang,’’ tegas Umar.

Umar menjelaskan, Partai Hanura dipimpin oleh mantan Panglima TNI Wiranto. Partai Gerindra didukung penuh oleh mantan Pangkostrad Prabowo Subianto. Sedangkan, PPRN ada sosok putri Pahlawan Revolusi Ahmad Yani. PDP ditukangi oleh mantan dedengkot-dedengkot PDIP. ‘’Sedangkan PKNU ada Alwi Shihab dan para kiai khos NU. Terakhir, PMB dengan kehadiran Din Syamsuddin,’’ katanya. Menurut survei LSN, Partai Hanura merupakan parpol baru terpopuler, dikenal oleh 30.6 persen publik. Di tempat kedua PKNU (13 persen), diikuti PDP (12.6 persen), PPRN (sembilan persen), Gerindra (6.8 persen), dan PMB (5.4 persen). Parpol baru lainnya ratarata dikenal kurang dari dua persen publik, bahkan banyak parpol yang tidak dikenal sama sekali keberadaannya.

Partai Hanura juga menjadi parpol baru yang paling disukai publik, sebanyak 16.4 persen publik mengaku suka dan sangat suka terhadap Hanura. Ditempat kedua PKNU (11 persen), disusul PDP (9.6 persen), lalu PPRN (9.3 persen), Partai Gerindra (7.8 persen), dan PMB (7.7 persen). Berkaca pada kenyataan tersebut, partai-partai baru, yang sebagian besar adalah partai gurem, tanpa kehadiran tokoh sulit untuk bertahan dalam Pemilu 2009. Alasannya, lanjut Umar, mayoritas pemilih di Indonesia akan memilih partai lebih banyak ditentukan oleh irasionalitas ketimbang program partai. Mereka memilih partai karena alas an ideologis atau kepopuleran tokoh-tokoh partai. Partai-partai gurem yang tokohnya tidak dikenal jangan harap akan mendapat dukungan.

Sependapat dengan Umar, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X menambahkan, faktor popularitas tokoh lebih dominan dibanding parpol terlihat dalam ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) di sejumlah daerah Indonesia. Menurutnya, figur calon kepala daerah yang popular di mata pemilih lebih berpotensi menang ketimbang factor parpol pengusung. ‘’Besar kecilnya parpol tidak menentukan kemenangan dalam pilkada, namun lebih ditentukan kredibilitas dan kapabilitas dari figur calon itu sendiri,’’ jelasnya.

Besarnya pengaruh figur tokoh juga tercermin dalam survei yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mengenai persepsi masyarakat terhadap pilkada Gubernur Jawa Tengah. Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid mengatakan, survei menunjukkan masyarakat Jawa Tengah lebih mempertimbangkan figur dan popularitas ketimbang asal partai calon.

Menurutnya, dalam survei yang dilakukan pada 14-25 April 2008 terhadap 1.191 responden menunjukkan hal yang memengaruhi pertimbangan masyarakat untuk memilih calon gubernur (cagub) lebih didasarkan kepada faktor figur atau popularitas daripada asal partai pengusung cagub. Dalam survey tersebut, sebanyak 92,02 persen responden mengaku akan mempertimbangkan faktor figur atau popularitas cagub dalam menentukan pilihannya pada pilgub nanti. Sementara itu, hanya sekitar 58,94 persen responden yang mempertimbangkan asal partai pengusung cagub.

‘’Sosok popularitas tokoh dalam partai gurem dapat menjadi’make up sehingga partai terlihat menarik di mata pemilih. Dengan sendirinya popularitas partai akan terkatrol sehingga dikenal luas ke masyarakat pemilih,’’ tuturnya.

Sementara, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menilai, hadirnya 34 parpol yang bertanding dalam pemilu membuat rakyat kebingungan memilih. Publik sulit membedakan satu partai dengan partai lainnya. Sehingga, figur yang populer dan rekam jejak yang baik sangat penting menentukan banyaknya suara yang bisa diraih sebuah parpol. ‘’Buktinya, iklan politik yang menekankan figure diri marak di berbagai media masa,’’ jelasnya.

Profesor Riset Bidang Politik LIPI ini merasa prihatin dengan sikap optimis pemimpin partai politik gurem yang ‘pagi-pagi’ sudah yakin bisa meraup suara banyak pada Pemilu 2009. Menurutnya, untuk membuktikan tingkat popularitas parpol baru tersebut di mata pemilih sangat mudah. ‘’Tak usah survei, jauh-jauh ngecek di NTT atau Ternate. Tanya saja di sekitar Depok, apakah pimpinan parpol tersebut dikenal oleh masyarakat,” ujarnya.


■ Rega Indra Adhiprana,Anugrah T Aji

Sumber: Indonesia Monitor
Edisi 5 Tahun I/29 Juli-5 Agustus 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: