Hanura-Gerindra Borong Partai Gurem

Dongkrak Suara
DUA JENDERAL
Borong Parpol


Wiranto dan Prabowo Subianto agresif memborong partai gurem yang tidak lolos seleksi KPU. Strategi dua jenderal mendongkrak suara Partai Hanura dan Gerindra dalam Pemilu 2009.

GELIAT Partai Hanura dalam menggalang suara terlihat makin agresif memasuki masa kampanye pemilu. Manuver politik partai bernomor urut 1 terlihat ketika berupaya meleburkan suara sembilan partai gurem yang tidak lolos verifikasi dalam bendera Hanura. Mereka adalah Partai Kebangkitan Rakyat, Partai Buruh, Partai Marhaen Jaya, Partai Kristen Indonesia 1945, Partai Kebangsaan, Partai Kristen Demokrat, Partai Kristen Nasional Demokrat Indonesia, Partai Bhineka Indonesia (PBI), dan Partai Pemersatu Nasionalis Indonesia.

Belanja Parpol Jelang Pemilu 2009

Belanja Parpol Jelang Pemilu 2009

Ketua DPP Hanura Fuad Bawazier mengatakan, upaya tersebut digalang karena masing-masing partai akan memiliki potensi besar jika dilebur dalam bendera Hanura. Ia pun menjanjikan sembilan parpol tersebut masuk dalam kepengurusan Hanura. Partai Pemersatu Nasionalis Indonesia (PPNI) menyatakan kesiapannya mendukung Partai Hanura dan menjadi bagian dari perubahan yang akan dilakukan Partai Hanura, yakni perubahan untuk menyejahterakan rakyat. John Kawilarang, salah seorang Ketua PPNI mengatakan, keputusan PPNI memilih Hanura tak lepas dari figure kepemimpinan Wiranto yang berani dan tegas

Begitu pula, Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 45 Raja Karina Brahmana menyatakan, partainya bergabung dengan Hanura karena melihat Indonesia perlu membangun gerakan politik yang bermoral dan memegang etika. “Hal itu saat ini sudah hilang. Hanura dengan gerakan hati nurani rakyat mengedepankan moral dan etika,” katanya.

Ketua Partai Kristen Demokrat (PDK) Tommy Sihotang menyatakan, banyak orang menunggu dan menaruh harapan pada Wiranto karena Ketua Umum Partai Hanura ini sudah membuktikan komitmennya yakni berjuang untuk rakyat. Ia menambahkan, Jenderal Wiranto punya dua kali kesempatan untuk menjadi pimpinan negeri ini, tapi Wiranto memilih tak menggunakannya karena lebih mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketum Hanura Wiranto mengatakan keputusan sembilan parpol untuk menyalurkan aspirasi politiknya melalui Partai Hanura adalah sesuatu yang baik karena untuk melakukan perubahan memang diperlukan kekuatan yang besar, setidaknya diperlukan kekuatan yang mampu mengungguli kekuatan parpol lama. “Setelah kita bicara ternyata suara kita sama dengan suara mereka, yakni ingin melakukan perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Saya yakin kami bisa menjadi bagian proses perubahan itu,” tegas Wiranto.

Namun, tidak semua partai tersebut kepincut bergabung dengan partainya Jenderal (Purn) Wiranto. Partai Buruh lebih memilih melebur ke dalam Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) untuk menyalurkan aspirasinya. Sebab, menurut Ketua Partai Buruh Muchtar Pakpahan, ada kemiripan visi dan misi yaitu untuk mengangkat derajat kaum buruh Indonesia. “Hasil Rakernas memutuskan tiga hal; partai kami terus berjuang lewat PTUN, Muchtar Pakpahan tetap tinggal di Partai Buruh, dan kader kami yang tidak sabar menunggu (hasil PTUN) dianjurkan ke PPPI,” kata Muchtar.

Setali tiga uang, PBI malah bergabung dengan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK). Pasalnya, kata Ketua PBI Nurdin Purnomo, merasa cocok dengan pluralisme dan demokrasi yang diusung PDK. Karena itu, partai yang mayoritas pendukungnya adalah keturunan etnis Cina itu lebih memilih untuk bergabung dengan partai yang dipelopori Ryaas Rasyid, meski banyak partai yang juga mengajaknya bergabung. Tidak hanya PBI, tiga partai lainnya yaitu Partai Kemakmuran, Partai Parade Nusantara, dan Partai Kerakyatan melebur ke dalam partai nomor 20 itu.

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) seperti tak mau ketinggalan. Salah satu parpol yang tak lolos verifikasi KPU, Partai Parade Nusantara, diklaim bergabung dengan partai nomor 5 tersebut. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan, partai yang digalang kepala desa seluruh Indonesia terus melakukan komunikasi dengan Gerindra. Menurutnya, tidak hanya partai gurem yang kepincut untuk melebur dengan partai yang dipelopori mantan Danjen Kopassus Jenderal Prabowo. Bahkan, beberapa tokoh partai, seperti PPRN (Partai Peduli Rakyat Nasional), PKS dan Demokrat di berbagai daerah menyatakan bergabung dengan Gerindra. “Di Kalimantan Tengah, saya dapat laporan bahwa (kader) dari PKS dan Partai Demokrat ada yang ingin bergabung. Banyak, deh, Mas. Setiap hari ada saja yang mau ikut. Saya sampai capek mendengarnya,” kata Ahmad.

Ditanya alasan mereka ingin bergabung, Ahmad mengatakan tidak tahu. Ia beranggapan, mereka telah mengetahui AD/ART Gerindra dan telah setuju terhadap cita-cita perjuangan partai. Lalu, mereka akan mewakili pribadinya masing-masing saat bergabung, bukan partainya. “Karena kami tidak menganut sistem keanggotaan lembaga, tapi perorangan,” imbuhnya.

Strategi Hanura dan Gerindra memborong parpol tak lolos verifikasi KPU diyakini bisa mendongkrak perolehan suara. Setidaknya, menurut Direktur Eksekutif Sugeng Sarjadi Syndicated, Sukardi Rinakit, ada dua keuntungan. Pertama, meleburkan partai-partai yang tidak lolos KPU akan memperkuat jaringan dan infrastruktur kedua partai yang dipelopori jenderal tersebut. Kendati tidak lolos, partai-partai itu sedikitnya memiliki jaringan ke bawah yang cukup bagus. “Paling tidak dapat memperkuat infrastruktur Hanura dan Gerindra,’’ imbuhnya.

Selain itu, partai-partai itu cukup memiliki basis suara untuk menghadapi Pemilu 2009. Namun, karena partai-partai tersebut tidak terlalu memiliki infrastruktur yang lengkap dan penetrasi yang kuat, Gerindra dan Hanura hanya mendapat sedikit sumbangan kontribusi suara. “Tentunya parpol yang tidak lolos ini tidak memiliki suara yang signifikan. Karena mereka tidak bisa membangun jaringan ke bawah maka penetrasinya juga akan kecil, otomatis tidak akan kuat,” katanya. ( Selain itu, Cak Kardi—sapaan akrab Sukardi Rinakit—menilai langkah menarik parpol-parpol yang tidak lolos verifikasi KPU tidaklah mudah. Soalnya, partai-partai tersebut akan menuntut kompensasi dari Hanura dan Gerindra. “Tentunya parpol tersebut meminta deal-deal tertentu. Urusan kompensasi tersebut yang sulit disatukan,” katanya.

Tidak jauh berbeda dengan Cak Kardi, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti, menilai strategi Hanura dan Gerindra belanja parpol gagal pemilu ini akan memberikan kekuatan secara produktif. Menurutnya, suara yang dimiliki puluhan partai-partai yang tidak lolos ini akan terbuang percuma jika tidak dirangkul bergabung. “Paling tidak mereka bisa membantu untuk menambah suara Hanura dan Gerindra. Karena jika dilihat dalam peraturan bahwa setiap parpol yang ingin memperoleh kursi di DPR,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, cara yang dilakukan oleh Hanura dan Gerindra sangat efektif untuk lebih mensosialisasikan kedua partai tersebut. Paling tidak dengan dukungan yang banyak dari parpol yang tidak lolos akan memberikan dukungan yang banyak juga dari masyarakat luas. Namun, meleburkan banyak partai akan memiliki resiko karena partai-partai politik yang tidak lolos ini akan meminta proyek. “Sangat menguntungkan jika Hanura atau Gerindra bisa memperoleh satu atau dua kursi DPR jika bergabung dengan parpol yang tidak lolos verifikasi,” tambahnya.


■ Rega Indra Adhiprana, Thantri Kesumndari

Sumber: Tabloid Indonesia Monitor
Edisi 6 Tahun I/6-12 Agustus 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: