Archive for August, 2008

Kisah Menteri dan Ani ‘Tukang Jamu’

Posted in Presiden SBY with tags , , on August 8, 2008 by anugue

Andai kata yang pernah terucap bisa ditarik kembali, mungkin Taufiq Effendi akan melakukannya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, hingga ia harus merasakan sentilan istri presiden.

Ibu Ani SBY dan Mbok Jamu

Ibu Ani SBY dan Mbok Jamu

Saat memberikan pembekalan kepada pengurus dan anggota DPR dari Partai Demokrat (PD) se-Indonesia di Hotel Sahid, Jakarta, Menneg PAN Taufiq Effendi tampak begitu kesal. Sebab, beberapa kali arahannya ditentang oleh salah seorang peserta. Berulang kali peserta yang juga pengurus DPP PD tersebut menyela dengan mengatakan, “Atas petunjuk Ibu Ani melalui SMS yang kami terima….”


Mungkin, pengurus DPP PD tersebut rajin ber-SMS ria dengan Ani Yudhoyono, meski setelah SBY jadi presiden, Ani sudah tak lagi menjabat Wakil Ketua Umum PD.  Entah kenapa, saat peserta tersebut kembali “menginterupsi”, Taufik lantas keceplosan, “Ani mana? Ani tukang jamu atau Ani gado-gado?” Ucapan spontan tersebut sempat membuat geeer forum pembekalan. Maklum, meski Taufiq memiliki selera humor tinggi, namun lontaran ‘nakal’ itu sama sekali tak diduga peserta pembekalan. “Sys NS dan Max Sopacua yang hadir dalam acara tersebut pun dibuat terpingkal-pingkal,” ujar sumber Indonesia Monitor.

Tapi, banyolan Taufiq membawa sial. Tanpa diketahui olehnya, acara tersebut ternyata direkam. Parahnya, rekaman tersebut sampai ke Ani. Menurut sumber, Ibu Negara marah bukan kepalang. Tak kurang dari hitungan jam, SBY lantas menelepon Taufiq. Menurut sumber, SBY mengancam akan mencopot Taufiq sebagai Menneg PAN karena dinilai tidak beretika. Bahkan, sejak kejadian tersebut, hampir enam bulan SBY tidak menyapa Taufiq dan menolak menerima Taufik yang ingin menghadap meski untuk urusan dinas.

Makanya, menjelang reshuffle jilid 1, nama Taufiq santer sekali terdengar akan terlempar dari kabinet. Namun, menurut sumber, Vence Rumangkang menyelamatkannya. Salah satu pendiri PD itu berjuang dengan melobi orang-rang sekitar SBY dan berhasil mengamankan pensiunan polisi bintang satu tersebut.
Namun, ketika dikonfirmasi, Vence membantah pernah menyelamatkan Taufiq dari reshuffle kabinet. “Oh, nggak kok. Nggak benar itu. Saya nggak pernah berhubungan dengan Pak Taufiq soal reshuffle. Bukan saya itu,” ujar Vence kepada Indonesia Monitor, Jumat (1/8) pekan lalu.

Vence juga enggan dimintai komentarnya soal sosok Ani Yudhoyono. Ia mengaku tidak mau mengomentari orang karena hal itu sensitif. “Apalagi, sekarang saya nggak di Partai Demokrat. Kalau ngomong soal Ibu Ani, nanti saya ditelepon dan dimarahi Ibu Ani. Saya sekarang takut ngomongin orang, apalagi Ibu Ani,” ujar Vence yang sekeluarnya dari Partai Demokrat langsung mendirikan Partai Barisan Nasional (Barnas). Di situ, ia duduk sebagai ketua umum. Sementara, Sys Ns yang disebut-sebut hadir dalam acara itu mengaku pernah juga mendengar kisah ‘menteri dan Ani tukang jamu’ itu dari teman-temannya di PD. Namun, ia membantah jika ikut hadir di acara tersebut. “Nggak, saya nggak ada di situ,” ujarnya kepada Indonesia Monitor, Sabtu (2/8) pekan lalu.

Menurut Bahauddin Thonti, salah satu pendiri Partai Demokrat, sebenarnya tak hanya Ani yang begitu superior di lingkaran presiden. Ada satu lagi yang begitu berpengaruh terhadap SBY, yaitu ibu mertua. Thonti mengisahkan, saat acara peringatan haul R Soekotjo (ayah SBY), di Pacitan, tahun 2001, ia ikut datang. Hj Sunarti Sri Hadiyah, ibu mertua SBY, juga ada di situ. Saat itu, SBY sedang makan di ruang keluarga, kebetulan Thonti berada di ruangan tersebut. Tak jauh dari tempat SBY duduk, masih di ruangan itu, ada ibu mertua SBY sedang duduk-duduk sambil istirahat. Tiba-tiba, janda mendiang Sarwo Edhie Wibowo itu memanggil SBY, “Mas Bambang…”
Belum sampai selesai Hj Sunarti mengucapkan kalimat lanjutan, SBY langsung beranjak dari tempat duduknya. Piring yang ada di tangannya langsung diletakan di atas menja. “Dalem, Bu,” ujar SBY sambil menghampiri ibu mertuanya.

“SBY terlihat begitu ketakutan terhadap mertuanya. Saat sang mertua memanggil namanya, SBY begitu terburu-buru. Padahal, ia sedang makan,” ujar Thonti.

Namun, menurut Wakil Ketua Umum DPP PD Ahmad Mubarok, SBY tidak pernah disetir oleh siapapun, termasuk oleh Ani atau ibu mertuanya. “Saya pernah melihat sendiri secara langsung ketika Pak SBY menyuruh Ibu Ani untuk tidak ikut campur dalam satu masalah. Pak SBY bilang, ‘Ibu, yang seperti ini Ibu nggak usah ikut’,” ujar Ahmad Mubarok, menirukan ucapan SBY.

Moh Anshari, Sri Widodo
Sumber: Tabloid Indonesia Monitor
Edisi 6 Tahun I/6-12 Agustus 2008

Advertisements

Muhammadiyah Tinggalkan PAN

Posted in Partai Politik 2009 with tags on August 7, 2008 by anugue

Sinar Muhammadiyah
Redup di Pondok Indah


Dukungan Pimpinan Pusat Muhammdiyah terhadap PMB (Partai Matahari Bangsa) semakin menguat setelah KPU mengumumkan partai matahari merah itu lolos sebagai partai peserta Pemilu 2009. Awal dari memudarnya matahari PAN tanpa sinar Muhammadiyah.

KETUA Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah KH Muhammad Muqoddas, dan Sekum HM Rosyad Saleh langsung menggelar rapat tertutup dengan Ketua Umum PMB Imam Addaruqutni dan Sekjen Ahmad Rofiq di Kantor Pusat Dakwah Muhammdiyah, Menteng, Jakarta, Rabu (9/7) pekan lalu. Usai pertemuan, Din langsung menegaskan dukungannya terhadap PMB. “Setiap parpol yang berkhianat dengan Muhammadiyah akan dijauhi warga Muhammadiyah,” tegas Din.

Saat ini, katanya, banyak parpol yang mengklaim dekat dengan Muhammadiyah, tetapi pada kenyataannya tidak membela kepentingan Muhammadiyah dan tidak seluruhnya menampilkan nilai-nilai Muhammadiyah. ‘’Jadi, sekarang jangan ada lagi parpol yang mengklaim dekat dengan Muhammadiyah tetapi tidak memperjuangkan kepentingan Muhammadiyah,” ujarnya.

Sayangnya, Doktor jebolan UCLA ini menolak untuk menyebut parpol yang pernah berkhianat terhadap Muhammadiyah tersebut. Apakah itu Partai Amanat Nasional (PAN)? Din mengatakan, ia tidak hanya bicara soal PAN, tetapi untuk partai mana saja yang pernah mengklaim dekat dengan Muhammadiyah. Yang dimaksud dengan nilai-nilai Muhammadiyah itu, menurutnya, seperti nilai antikorupsi, antisuap menyuap dan antipolitik uang. Din juga menegaskan bahwa meskipun tidak punya hubungan organisatoris dengan Muhammadiyah tetapi warga Muhammadiyah diperbolehkan menjadikan PMB sebagai sarana perjuangan politiknya.

Berbeda dengan Din, salah satu Ketua KH Muhammad Muqaddas dengan tegas mengatakan bahwa Muhammadiyah setuju, mendukung dan akan memilih PMB pada Pemilu 2009. “Dengan izin Allah, kita berharap PMB akan menjadi partai yang besar,” katanya. Dukungan Muhammadiyah tersebut langsung bergulir ketika PMB dideklarasikan di Kota Yogyakarta, Desember tahun silam.

Tokoh karismatik Muhammadiyah Syafii Maarif dalam tausiyahnya meminta kader PMB memegang teguh idealisme sampai mati. Sebab, saat ini politik dianggap sebagai mata pencarian, bukan alat perjuangan. Akibatnya, bangsa ini sekarang dipimpin para maling.

Totalitas dukungan pentolan Muhammadiyah tentu membuat semangat Imam Addaruqutni membuncah. Komitmen itu memudahkan PMB masuk ke dalam kalangan warga Muhammadiyah. Dengan modal tersebut dalam pemilu legislatif, PMB optimis dapat meraup suara di atas tujuh persen. ’’Angka itu suara yang diperoleh dengan kembalinya suara kalangan Muhammadiyah. Jika memaksimalkan dari kalangan lainnya yang orientasi ideologinya juga ke Muhammadiyah besarnya kira-kira 10 persen,’’ ujar Imam.

Sementara Sekjen PMB Ahmad Rofiq meyakini bahwa massa Muhammadiyah tersebar dimana-mana, bahkan tidak sedikit pendukung yang bernaung di PAN, PKS dan terbanyak di Partai Golkar. Dengan dukungan elit Muhammadiyah, PMB memiliki target untuk memanggil kembali massa ormas Islam terbesar kedua di Indonesia ini. Untuk mengejar target tersebut, Rofiq mengatakan, salah satu strateginya dengan mengirimkan surat kepada DPW dan DPC Muhammadiyah di seluruh Indonesia agar memberikan sumbangsih berupa kesediaan kadernya menjadi calon  anggota legislatif dari PMB. ‘’Kesediaan tokoh-tokoh Muhammadiyah di daerah merupakan dukungan besar untuk meraih kemenangan pada Pemilu 2009. Ini juga bukti komitmen kami pada persyarikatan Muhammadiyah,” katanya.

Selain itu, Imam menambahkan, kehadiran PMB yang berazas Islam Berkemajuan ini diyakini dapat menyedot suara warga Muhammadiyah yang semula memilih PKS. Pemilih Muhammadiyah tersebut akan melihat PMB dan PKS sama-sama berasas Islam, bukan seperti PAN yang berasas nasionalis. ‘’Saya yakin akan ada proses arus balik suara Muhammadiyah ke PMB. Apalagi dengan dengan masa kampanye yang delapan bulan akan memaksimalkan suara PMB, mungkin di atas 70 persen suara Muhamaddiyah akan kembali ke PMB,’’ tegasnya.

Alasannya, PMB memiliki orientasi ideologis yang tepat untuk menampung suara Muhammadiyah. Berbeda dengan PAN atau PKS yang secara ideologis berbeda dengan Muhammadiyah. Karena dalam ideologi Islam, Muhammadiyah jauh lebih lama berdiri dibandingkan dengan PKS. ’’Artinya,’pengikut kita yang dulu sempat berpaling akan kembali,’’ tegasnya.

Kendati begitu, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) Husin  Yazid menilai, memang kehadiran PMB dalam Pemilu 2009 dapat kembali menjadi payung bagi warga Muhammadiyah yang telah berpencar ke berbagai partai. Apalagi, sejak ditinggal Amien Rais, PAN dinilai tidak dapat memperjuangkan aspirasi warga Muhammadiyah. ‘’Potensi PAN kehilangan suara Muhammadiyah sangat besar,’’ujar Husin.

Kemungkinan tersebut, menurutnya, sudah dibaca Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir dari markasnya di Pondok Indah. Karenanya Mas Tris, sapaan akrab Soetrisno Bachir, lebih sering menggarap pasar massa di luar Muhammadiyah. Bagaimana dengan PAN? Partai berlambang matahari biru itu sepertinya tak terlalu khawatir dengan kemesraan elit Muhammadiyah dengan PMB. Wasekjen PAN Teguh Juwarno menilai, kehadiran PMB bukan ancaman. Menurutnya, dalam Pemilu 2009 pemilih akan memilih partai yang betul-betul mereka inginkan. ‘’Bukan lagi ketokohan partai, bukan warna, lambang dan atributnya,’’ kata kepada’Indonesia Monitor.

Lebih jauh Teguh menambahkan, massa Muhammadiyah adalah massa yang rasional dan cerdas. Sehingga dalam menentukan pilihan dengan pertimbangan rasional. Kasus tersebut, lanjutnya, tercermin dalam Pemilu 2004 ketika PAN dipegang Amien Rais, aspirasi massa Muhammadiyah lebih besar disalurkan ke Partai Golkar. ‘’Jadi secara realitas basis utama PAN adalah massa yang ada di bawah. Jumlahnya lebih banyak dari massa Muhammadiyah,’’ ujarnya.

Hal itu juga diamini Husin. Kendati mendapat dukungan politis dari elit Muhammadiyah, tidak serta merta suara massa Muhammadiyah yang terpencar akan kembali masuk PMB. Soalnya, secara kultural massa Muhammadiyah berbeda dengan NU (Nahdlatul Ulama). Suara Muhammadiyah yang berbasis di perkotaan dan terpelajar belum tentu akan sami’na wa atho’na (mendengar dan mematuhi) titah, sekalipun pentolan Muhammadiyah telah memberikan sinyal terhadap PMB.

Selain itu, partai yang memiliki moto perjuangan satukan umat makmurkan bangsa ini digalang anak-anak muda Muhammadiyah yang belum teruji secara politik. Untuk itu, selama masa sembilan bulan kampanye, PMB harus dapat melakukan marketing politik dan komunikasi yang tepat agar targetnya tidak menjadi mimpi. Setidaknya harus pintar memanfaatkan momentum hilangnya sinar Muhammadiyah di Pondok Indah.

■ Thantri Kesumandari, Feri Relasyah, Anugrah T Aji

Sumber: Tabloid Indonesia Monitor
Edisi 3 Tahun I/16-22 Juli 2008

Hanura-Gerindra Borong Partai Gurem

Posted in Partai Politik 2009 with tags on August 7, 2008 by anugue

Dongkrak Suara
DUA JENDERAL
Borong Parpol


Wiranto dan Prabowo Subianto agresif memborong partai gurem yang tidak lolos seleksi KPU. Strategi dua jenderal mendongkrak suara Partai Hanura dan Gerindra dalam Pemilu 2009.

GELIAT Partai Hanura dalam menggalang suara terlihat makin agresif memasuki masa kampanye pemilu. Manuver politik partai bernomor urut 1 terlihat ketika berupaya meleburkan suara sembilan partai gurem yang tidak lolos verifikasi dalam bendera Hanura. Mereka adalah Partai Kebangkitan Rakyat, Partai Buruh, Partai Marhaen Jaya, Partai Kristen Indonesia 1945, Partai Kebangsaan, Partai Kristen Demokrat, Partai Kristen Nasional Demokrat Indonesia, Partai Bhineka Indonesia (PBI), dan Partai Pemersatu Nasionalis Indonesia.

Belanja Parpol Jelang Pemilu 2009

Belanja Parpol Jelang Pemilu 2009

Ketua DPP Hanura Fuad Bawazier mengatakan, upaya tersebut digalang karena masing-masing partai akan memiliki potensi besar jika dilebur dalam bendera Hanura. Ia pun menjanjikan sembilan parpol tersebut masuk dalam kepengurusan Hanura. Partai Pemersatu Nasionalis Indonesia (PPNI) menyatakan kesiapannya mendukung Partai Hanura dan menjadi bagian dari perubahan yang akan dilakukan Partai Hanura, yakni perubahan untuk menyejahterakan rakyat. John Kawilarang, salah seorang Ketua PPNI mengatakan, keputusan PPNI memilih Hanura tak lepas dari figure kepemimpinan Wiranto yang berani dan tegas

Begitu pula, Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 45 Raja Karina Brahmana menyatakan, partainya bergabung dengan Hanura karena melihat Indonesia perlu membangun gerakan politik yang bermoral dan memegang etika. “Hal itu saat ini sudah hilang. Hanura dengan gerakan hati nurani rakyat mengedepankan moral dan etika,” katanya.

Ketua Partai Kristen Demokrat (PDK) Tommy Sihotang menyatakan, banyak orang menunggu dan menaruh harapan pada Wiranto karena Ketua Umum Partai Hanura ini sudah membuktikan komitmennya yakni berjuang untuk rakyat. Ia menambahkan, Jenderal Wiranto punya dua kali kesempatan untuk menjadi pimpinan negeri ini, tapi Wiranto memilih tak menggunakannya karena lebih mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketum Hanura Wiranto mengatakan keputusan sembilan parpol untuk menyalurkan aspirasi politiknya melalui Partai Hanura adalah sesuatu yang baik karena untuk melakukan perubahan memang diperlukan kekuatan yang besar, setidaknya diperlukan kekuatan yang mampu mengungguli kekuatan parpol lama. “Setelah kita bicara ternyata suara kita sama dengan suara mereka, yakni ingin melakukan perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Saya yakin kami bisa menjadi bagian proses perubahan itu,” tegas Wiranto.

Namun, tidak semua partai tersebut kepincut bergabung dengan partainya Jenderal (Purn) Wiranto. Partai Buruh lebih memilih melebur ke dalam Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) untuk menyalurkan aspirasinya. Sebab, menurut Ketua Partai Buruh Muchtar Pakpahan, ada kemiripan visi dan misi yaitu untuk mengangkat derajat kaum buruh Indonesia. “Hasil Rakernas memutuskan tiga hal; partai kami terus berjuang lewat PTUN, Muchtar Pakpahan tetap tinggal di Partai Buruh, dan kader kami yang tidak sabar menunggu (hasil PTUN) dianjurkan ke PPPI,” kata Muchtar.

Setali tiga uang, PBI malah bergabung dengan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK). Pasalnya, kata Ketua PBI Nurdin Purnomo, merasa cocok dengan pluralisme dan demokrasi yang diusung PDK. Karena itu, partai yang mayoritas pendukungnya adalah keturunan etnis Cina itu lebih memilih untuk bergabung dengan partai yang dipelopori Ryaas Rasyid, meski banyak partai yang juga mengajaknya bergabung. Tidak hanya PBI, tiga partai lainnya yaitu Partai Kemakmuran, Partai Parade Nusantara, dan Partai Kerakyatan melebur ke dalam partai nomor 20 itu.

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) seperti tak mau ketinggalan. Salah satu parpol yang tak lolos verifikasi KPU, Partai Parade Nusantara, diklaim bergabung dengan partai nomor 5 tersebut. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan, partai yang digalang kepala desa seluruh Indonesia terus melakukan komunikasi dengan Gerindra. Menurutnya, tidak hanya partai gurem yang kepincut untuk melebur dengan partai yang dipelopori mantan Danjen Kopassus Jenderal Prabowo. Bahkan, beberapa tokoh partai, seperti PPRN (Partai Peduli Rakyat Nasional), PKS dan Demokrat di berbagai daerah menyatakan bergabung dengan Gerindra. “Di Kalimantan Tengah, saya dapat laporan bahwa (kader) dari PKS dan Partai Demokrat ada yang ingin bergabung. Banyak, deh, Mas. Setiap hari ada saja yang mau ikut. Saya sampai capek mendengarnya,” kata Ahmad.

Ditanya alasan mereka ingin bergabung, Ahmad mengatakan tidak tahu. Ia beranggapan, mereka telah mengetahui AD/ART Gerindra dan telah setuju terhadap cita-cita perjuangan partai. Lalu, mereka akan mewakili pribadinya masing-masing saat bergabung, bukan partainya. “Karena kami tidak menganut sistem keanggotaan lembaga, tapi perorangan,” imbuhnya.

Strategi Hanura dan Gerindra memborong parpol tak lolos verifikasi KPU diyakini bisa mendongkrak perolehan suara. Setidaknya, menurut Direktur Eksekutif Sugeng Sarjadi Syndicated, Sukardi Rinakit, ada dua keuntungan. Pertama, meleburkan partai-partai yang tidak lolos KPU akan memperkuat jaringan dan infrastruktur kedua partai yang dipelopori jenderal tersebut. Kendati tidak lolos, partai-partai itu sedikitnya memiliki jaringan ke bawah yang cukup bagus. “Paling tidak dapat memperkuat infrastruktur Hanura dan Gerindra,’’ imbuhnya.

Selain itu, partai-partai itu cukup memiliki basis suara untuk menghadapi Pemilu 2009. Namun, karena partai-partai tersebut tidak terlalu memiliki infrastruktur yang lengkap dan penetrasi yang kuat, Gerindra dan Hanura hanya mendapat sedikit sumbangan kontribusi suara. “Tentunya parpol yang tidak lolos ini tidak memiliki suara yang signifikan. Karena mereka tidak bisa membangun jaringan ke bawah maka penetrasinya juga akan kecil, otomatis tidak akan kuat,” katanya. ( Selain itu, Cak Kardi—sapaan akrab Sukardi Rinakit—menilai langkah menarik parpol-parpol yang tidak lolos verifikasi KPU tidaklah mudah. Soalnya, partai-partai tersebut akan menuntut kompensasi dari Hanura dan Gerindra. “Tentunya parpol tersebut meminta deal-deal tertentu. Urusan kompensasi tersebut yang sulit disatukan,” katanya.

Tidak jauh berbeda dengan Cak Kardi, Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti, menilai strategi Hanura dan Gerindra belanja parpol gagal pemilu ini akan memberikan kekuatan secara produktif. Menurutnya, suara yang dimiliki puluhan partai-partai yang tidak lolos ini akan terbuang percuma jika tidak dirangkul bergabung. “Paling tidak mereka bisa membantu untuk menambah suara Hanura dan Gerindra. Karena jika dilihat dalam peraturan bahwa setiap parpol yang ingin memperoleh kursi di DPR,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, cara yang dilakukan oleh Hanura dan Gerindra sangat efektif untuk lebih mensosialisasikan kedua partai tersebut. Paling tidak dengan dukungan yang banyak dari parpol yang tidak lolos akan memberikan dukungan yang banyak juga dari masyarakat luas. Namun, meleburkan banyak partai akan memiliki resiko karena partai-partai politik yang tidak lolos ini akan meminta proyek. “Sangat menguntungkan jika Hanura atau Gerindra bisa memperoleh satu atau dua kursi DPR jika bergabung dengan parpol yang tidak lolos verifikasi,” tambahnya.


■ Rega Indra Adhiprana, Thantri Kesumndari

Sumber: Tabloid Indonesia Monitor
Edisi 6 Tahun I/6-12 Agustus 2008

Parpol Gurem Mencari Figur

Posted in Partai Politik 2009 with tags on August 7, 2008 by anugue

Tanpa Solek, Muram
Wajah Partai Gurem

Parpol gurem harus pintar bersolek dalam Pemilu 2009. Kehadiran figur tokoh dapat menjadi make up untuk memikat hati pemilih.

BEGITU peluit masa kampanye ditiup KPU (Komisi Pemilihan Umum). Beberapa partai baru terlihat agresif mencari figur tokoh nasional. Pentolan partai gurem tersebut menyadari kehadiran sosok karismatik diharap dapat mendongkrak perolehan suara. Tidak cukup hanya mengandalkan program untuk membuat parpol laris.

Strategi menjual figure tokoh ini sukses didulang PIS (Partai Indonesia Sejahtera). Dalam Rapimnas PIS pecan lalu. Partai bernomor urut 33 ini berhasil menggandengan Letjen TNI (Pur) Sutiyoso dan sejumlah artis seperti Ratu Dangdut Elvi Sukaesih, Happy Salma dan pelawak personel empat Eman. Ketua Umum PIS Budiyanto Darmastono mengatakan, popularitas mantan Gubernur DKI Jakarta itu diyakini dapat membawa PIS memenangkan Pemilu 2009. Setidaknya nama mentereng Bang Yos—sapaan akrab Sutiyoso—akan memudahkan PIS meraih 15 kursi DPR RI atau meraih 2,5 persen angka parliamentary threshold (PT) dari jumlah kursi di DPR RI dalam pemilu 2009 mendatang. ‘’Dengan waktu yang kurang dari sembilan bulan ini, PIS harus bekerja keras dengan membangun jaringan sampai tingkat dusun,” serunya.

Bang Yos sendiri yang sudah resmi menjadi calon presiden PIS berjanji akan membesarkan PIS hingga ke pelosok daerah. ‘’Target awal yang dicanangkan PIS adalah meraih suara yang berasal dari kader, keluarga kader, maupun lingkungan di sekitar kader PIS,” ujar mantan Pandam Jaya itu.

Langkah yang sama juga sudah jauh hari dilakukan PMB (Partai Matahari Bangsa). Partai berlambang matahari merah ini menggandeng tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam proses kelahirannya. Kemesraan PMB dan Muhammadiyah makin terlihat dalam Rapimnas PMB, Jumat (24/07). ‘’Muhammadiyah dukung penuh PMB. Ini pribadi. Akan tetapi, pribadi tidak terlepas dari jabatan saya sebagai Ketua Muhammadiyah,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Selain Din, kehadiran sosok tokoh karismatik Syafii Maarif di balik layar PMB, membuat pamor partai yang dimotori anak-anak muda Muhammadiyah makin bersinar. Manajemen menjual popularitas tokoh yang dilakukan parpol baru itu diakui

Direktur Lembaga Survei Nasional (LSN) Umar S Bakry sebagai langkah jitu menaikkan pamor partai. Menurutnya, berdasarkan hasil survei LSN yang diadakan bulan Mei 2008 di 33 provinsi, ada enam parpol yang dikenal publik, yaitu: Partai Hanura, Partai Gerindra, PPRN, PDP, PKNU dan PMB. Faktor yang membuat keenam parpol tersebut relatif lebih popular daripada parpol baru lainnya adalah figur tokoh yang berada di balik mereka. ‘’Bukan program partai yang masih di awang-awang,’’ tegas Umar.

Umar menjelaskan, Partai Hanura dipimpin oleh mantan Panglima TNI Wiranto. Partai Gerindra didukung penuh oleh mantan Pangkostrad Prabowo Subianto. Sedangkan, PPRN ada sosok putri Pahlawan Revolusi Ahmad Yani. PDP ditukangi oleh mantan dedengkot-dedengkot PDIP. ‘’Sedangkan PKNU ada Alwi Shihab dan para kiai khos NU. Terakhir, PMB dengan kehadiran Din Syamsuddin,’’ katanya. Menurut survei LSN, Partai Hanura merupakan parpol baru terpopuler, dikenal oleh 30.6 persen publik. Di tempat kedua PKNU (13 persen), diikuti PDP (12.6 persen), PPRN (sembilan persen), Gerindra (6.8 persen), dan PMB (5.4 persen). Parpol baru lainnya ratarata dikenal kurang dari dua persen publik, bahkan banyak parpol yang tidak dikenal sama sekali keberadaannya.

Partai Hanura juga menjadi parpol baru yang paling disukai publik, sebanyak 16.4 persen publik mengaku suka dan sangat suka terhadap Hanura. Ditempat kedua PKNU (11 persen), disusul PDP (9.6 persen), lalu PPRN (9.3 persen), Partai Gerindra (7.8 persen), dan PMB (7.7 persen). Berkaca pada kenyataan tersebut, partai-partai baru, yang sebagian besar adalah partai gurem, tanpa kehadiran tokoh sulit untuk bertahan dalam Pemilu 2009. Alasannya, lanjut Umar, mayoritas pemilih di Indonesia akan memilih partai lebih banyak ditentukan oleh irasionalitas ketimbang program partai. Mereka memilih partai karena alas an ideologis atau kepopuleran tokoh-tokoh partai. Partai-partai gurem yang tokohnya tidak dikenal jangan harap akan mendapat dukungan.

Sependapat dengan Umar, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono X menambahkan, faktor popularitas tokoh lebih dominan dibanding parpol terlihat dalam ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) di sejumlah daerah Indonesia. Menurutnya, figur calon kepala daerah yang popular di mata pemilih lebih berpotensi menang ketimbang factor parpol pengusung. ‘’Besar kecilnya parpol tidak menentukan kemenangan dalam pilkada, namun lebih ditentukan kredibilitas dan kapabilitas dari figur calon itu sendiri,’’ jelasnya.

Besarnya pengaruh figur tokoh juga tercermin dalam survei yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) mengenai persepsi masyarakat terhadap pilkada Gubernur Jawa Tengah. Direktur Eksekutif Puskaptis Husin Yazid mengatakan, survei menunjukkan masyarakat Jawa Tengah lebih mempertimbangkan figur dan popularitas ketimbang asal partai calon.

Menurutnya, dalam survei yang dilakukan pada 14-25 April 2008 terhadap 1.191 responden menunjukkan hal yang memengaruhi pertimbangan masyarakat untuk memilih calon gubernur (cagub) lebih didasarkan kepada faktor figur atau popularitas daripada asal partai pengusung cagub. Dalam survey tersebut, sebanyak 92,02 persen responden mengaku akan mempertimbangkan faktor figur atau popularitas cagub dalam menentukan pilihannya pada pilgub nanti. Sementara itu, hanya sekitar 58,94 persen responden yang mempertimbangkan asal partai pengusung cagub.

‘’Sosok popularitas tokoh dalam partai gurem dapat menjadi’make up sehingga partai terlihat menarik di mata pemilih. Dengan sendirinya popularitas partai akan terkatrol sehingga dikenal luas ke masyarakat pemilih,’’ tuturnya.

Sementara, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menilai, hadirnya 34 parpol yang bertanding dalam pemilu membuat rakyat kebingungan memilih. Publik sulit membedakan satu partai dengan partai lainnya. Sehingga, figur yang populer dan rekam jejak yang baik sangat penting menentukan banyaknya suara yang bisa diraih sebuah parpol. ‘’Buktinya, iklan politik yang menekankan figure diri marak di berbagai media masa,’’ jelasnya.

Profesor Riset Bidang Politik LIPI ini merasa prihatin dengan sikap optimis pemimpin partai politik gurem yang ‘pagi-pagi’ sudah yakin bisa meraup suara banyak pada Pemilu 2009. Menurutnya, untuk membuktikan tingkat popularitas parpol baru tersebut di mata pemilih sangat mudah. ‘’Tak usah survei, jauh-jauh ngecek di NTT atau Ternate. Tanya saja di sekitar Depok, apakah pimpinan parpol tersebut dikenal oleh masyarakat,” ujarnya.


■ Rega Indra Adhiprana,Anugrah T Aji

Sumber: Indonesia Monitor
Edisi 5 Tahun I/29 Juli-5 Agustus 2008